Search This Blog

Showing posts with label Event Review. Show all posts
Showing posts with label Event Review. Show all posts

Wednesday, March 9, 2011

Press Conference and Hearing Session Themilo - Photograph New Album

at Beat N Bite Café, Bandung. 7 Maret 2011

 
Salah satu pioneer band shoegaze/dream pop dari kota Bandung akhirnya kembali bangun dari tidurnya yang cukup panjang. Yup! mereka adalah Themilo band yang terbentuk sekitar 14 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2006 silam. Setelah sukses dengan debut album pertama mereka yang berjudul “Let Me Begin” pada tahun 2003 lalu, pada tahun 2011 ini mereka kembali hadir dengan album kedua mereka yang berjudul “Photograph”, sebuah album yang tentunya telah dinanti-natikan oleh para Guardian Angle Milita. Sekitar 7 tahunan para Guardian Angle harus bersabar menantikan kehadiran karya terbaru dari Themilo yang sekarang terdiri dari Ajie Gergaji (guitar/vocal), Upik (guitar), Suki (bass), Hendi Unyil (keyboard), dan Budi Cilsen (drum).





Senin malam bertempat di Beat N Bite café, Themilo mengadakan press conference dari album kedua mereka yang bertajuk “Photograph” yang telah dirilis resmi pada tanggal 21 Februari lalu. Acara yang dimulai sekitar pukul 19.00WIB ini dihadiri oleh kerabat dan crew dari Themilo, serta tidak lupa rekan-rekan media yang tentunya menyempatkan diri untuk hadir dalam acara ini. Sebelum press conference dimulai, para personil dari Themilo mempersilahkan rekan-rekan media untuk menikmati hidangan yang telah mereka sediakan. Tampak sekali keakraban yang ditawarkan oleh para personil dari Themilo ini, sehingga menghangatkan suasana yang belum sempat menjadi kaku.


Dalam press conference malam hari itu, para personil Themilo menceritakan berbagai hal teknis mengenai proses pembuatan album sampai menceritakan kendala dalam pembuatannya, sehingga album kedua ini tertahan cukup panjang sekitar 7 tahun, selain itu press conference ini diselingi dengan hearing session dari lagu-lagu Themilo yang terdapat dalam album “Photograph”. Ajie menjelaskan, bahwa judul album baru Themilo yang berjudul “Photograph” ini adalah sebuah album yang mengambil angle bermusik Themilo dari sisi yang berbeda, seperti kamera yang meng-capture sebuah objek. Namun album Photograph ini menceritakan tentang kehidupan teman-teman di sekitar Themilo. Ibaratnya me-capture sebuah objek, dalam album ini objeknya adalah cerita dari teman-teman Themilo yang mereka tuangkan menjadi lirik dalam album, kemudian objek itu mereka capture menjadi sebuah foto. Nah, cerita dari teman-teman itu mereka capture ke dalam album yang dinamakan Photograph.


Ada dua single yang menjadi andalan dalam album Photograph ini, yaitu “Don’t Don't Worry For Being Alone” dan “Daun Dan Ranting Menuju Surga”. Ajie menjelaskan lagu “Daun Dan Ranting Menuju Surga” adalah lagu dalam lirik berbahasa Indonesia pertama yang manjadi single mereka untuk album kedua ini, karena lagu ini dirasa paling pas dan jarang sekali Themilo mengeluarkan single dalam lirik berbahasa Indonesia.


Proses pembuatan album kedua ini tentu saja mereka lalui tidak tanpa kendala/masalah, “proses pembuatan album ini dimulai pada tahun 2005, demo album Photograph waktu itu sempat bocor karena pada saat itu Themilo merekam lagu-lagu di rumah saya. Sekitar tahun 2006 kami pindah ke studio beneran dan take ulang dari awal, dalam prosesnya ada musibah di studio seperti hard disk crash sampai 90% dan tidak tertolong. Hingga akhirnya tanggal 21 Februari tahun 2011 kami dapat restu dari Yang Maha Kuasa untuk merilis album Photograph ini”  tutur Ajie. Selain itu dinamika dalam album Photograph ini adalah album kedua Themilo ini bisa disebut sebagai dengan album pendewasaan dari Themilo. Dalam album Photograph ini Themilo menggaet dua orang wanita cantik untuk ikut berkontribusi dalam album Photograph ini, mereka adalah Maradilla Syachridar dan Grace Sahertian. Harapan mereka dengan album terbaru ini semoga album Photograph ini dapat diterima oleh masyarakat, dan semoga Themilo dapat membuat karya baru yang mendunia.


Acara ini ditutup dengan sukuran potong tumpeng, dan berdoa bersama yang dipandu, dan para personil Themilo mengajak rekan-rekan media yang hadri untuk makan-makan bersama.




Pada tanggal 1-3 April mendatang, Themilo bersama Leonardo, dan Alfa-alfa akan bertolak menuju Singapore untuk tampil dalam rangka event tahunan “Rock the Regent”. Kita doakan bersama semoga semuanya diberikan kelancaran. Amin


Thursday, February 10, 2011

Konser Kecil Deugalih and Folks

Beat N Bite café, Bandung. 5 Februari 2011
Deugalih and Folks menghangatkan suasana dinginnya malam di kota Bandung dengan balada alunan musik folk yang mereka persembahkan.



Pada hari Sabtu tepatnya pada tanggal 5 Februari 2011, Deugalih and Folks band beraliran folk ini mengadakan sebuah konser kecil yang bertempat di Beat N Bite café. Konser kecil ini diadakan dalam rangka mempertingati ulang tahun mereka yang pertama pada bulan depan setelah pada tahun sebelumnya di awal karir mereka terbentuk langsung menjadi band pembuka konser sang legenda Daniel Sahuleka dan Sandy Sandhoro dan mereka berhasil mendapatkan sorotan dari publik. Selain itu konser kecil ini digelar untuk memperkenalkan lagu-lagu mereka yang belum pernah orang lain dengar sebelumnya karena selama Deugalih and Folks tampil di setiap acara hanya berkesempatan membawakan sekitar 4-5 lagu, namun di konser kecil ini Deugalih and Folks tampil dengan membawakan 20 lagu dengan durasi yang memakan waktu sekitar 2 jam, namun konsepnya set acoustic performance minimalist.


Deugalih and Folks berawal dari project pribadi Galih Su yang pada saat itu masih tampil dengan membawakan konsep musikalisasi puisi dengan nama Deugalih sampai tahun 2010. Semuanya berubah ketika Deugalihmenjadi band pembuka Shandy Sandoro dan musisi legendaries, Daniel Sahuleka di kota Bandung. pada akhirnya Galih pun mengajak teman-temannya disatu fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, yang sekarang menjadi personil tetap dari Deugalih & Folks. Secara lirikal untuk Deugalih and Folks tidak mengalami perubahan, namun dari segi musikalitas tentu mengalami banyak perkembangan, lagu-lagu yang mereka bawakan beberapa memang lagu asli yang diciptakan oleh Deugalih dan sudah masuk dalam diskografinya The Wonderful Journey (Inmyroom records) yang diaransemen ulang dalam format band, akan tetapi ada juga beberapa lagu baru yang diciptakan bersama-sama dan mulai lahir satu-persatu.

 

Deugalih and Folks sekarang berpersonilkan Galih Su (vocal, guitar), Galant Yurdian (bass), Yadi Cubek (guitar), Abah Donny (harmonica, guitar), Imam Maulana (biola), Gantira Sena (drums), Yogi Immanudin (perkusi) dan Rasus Budhyono (Irish Tin Whistle) serta Agus Hikmat (additional Banjo player) ini membuka penampilan mereka pada pukul 20.00 WIB dengan lagu yang diambil dalam “Siluet: B-Sides” yang berjudul Anak Sungai. Galih Su sempat berpesan kepada penonton “kami tidak ingin kalian yang nonton Deugalih and Folks malam mini pulang dengan tidak membawa sesuatu atau kesan, kami ingin kalian merasakan suka cita dengan lagu-lagu yang akan kami mainkan mala mini. Selamat menikmati”. Tidak hanya itu, penampilan Deugalih and Folks juga dimeriahkan dengan kolaborasi Galih Su dengan duet acoustic Temansebangku yang teridiri dari Doly (gitar) dan Sarita (vocal) dan membawakan satu buah lagu yang berjudul “Layang-layang”.


Malam itu mereka membawakan sekitar 20 lagu dan tampil sekitar 2 jam, penampilan mereka sangat memberikan kesan tersendiri hal ini didukung dengan penampilan mereka dengan aliran musik yang terbilang cukup jarang di kota Bandung. 20 lagu balada Folk mereka mainkan dengan nuansa Irish Music membawa kita seperti berada dalam nuansa pesta rakyat dengan irama-irama musiknya yang menghentak. Hal ini jarang sekali terjadi kita biasanya mereka main dalam sebuah event maksimal membawakan 4-5 buah lagu, namun dalam konser kecil ini mereka tampil all out dengan 2 lagu termasuk instrument yang mereka mainkan. Penampilan mereka malam itu ditutup dengan penampilan solo acoustic dari Galih Su dengan membawakan lagu “”. Sampai jumpa dalam konser tunggal Deugalih and Folks mendatang.

Monday, January 31, 2011

We Are Here!! Sebuah Langkah Nyata Memerangi Narkoba

at Car Free Day Ir. H. Juanda (Dago) Bandung. 30 Januari 2011





Bertempat di Jl. Ir. H. Juanda (Dago), Bandung tepatnya di seberang SMAK Dago. Acara yang bertajuk We Are Here!! ini akhirnya dapat diselenggarakan, acara yang digagas oleh Drug Free Youth Indonesia (@drugfreeINA) bekerjasama dengan Straight Edge Life (@sxe_life) dan Indonesian Straight Edge (@indosxe) yang berupa street campaign against drugs. Acara kampanye yang dimulai dari pukul 7-9 pagi dengan menggelar berupa spanduk berukuran 6 x 1 meter di pinggir jalan. Tampak terlihat orang-orang tertarik dan menghampiri spanduk berukuran 6 x 1 meter tersebut dan kemudian ikut membubuhkan tanda tangan beserta testimonial mereka di atas spanduk tersebut. Agenda utama acara ini adalah mengumpulkan tanda tangan, di kawasan Car Free Day tampak ribuan orang tumpah ruah memadati sekitaran jalan Dago ini. Ratusan orang bahkan lebih tampak antusias untuk membubuhkan tanda tangan mereka sebagai dukungan terhadap kampanye gerakan anti narkoba ini.





“Acara ini sendiri akan kembali diadakan secara berkala dan tujuan berikutnya adalah sekolah-sekolah SMA di kota Bandung”, Roby menjelaskan. Kenapa kampanye ini diberi tajuk "We Are Here!!”? Sederhana saja, kegiatan ini bermaksud untuk membuktikan pada khalayak bahwa "disini", anak-anak muda masih peduli dengan gerakan anti narkoba dengan membubuhkan tanda tangan mereka sebagai bukti dukungan untuk memerangi peredaran narkoba di Indonesia. Pada gelaran ini akan disertai juga dengan pembagian merchandise Drug Free Youth Indonesia yang jumlahnya cukup terbatas. Tindak lanjut dari pengumpulan tanda tangan di arena Car Free Day ini akan dibawa ke Badan Narkotika Provinsi (BNP) sebagai isyarat bahwa gerakan pemberantasan narkoba dari anak-anak muda bangsa kembali menggeliat.





Sasaran dari street campaign ini adalah masyarakat luas dan anak-anak muda pada umumnya yang datang ke area Car Free Day Dago. Arena Car Free Day dipilih karena dipandang menjadi salah satu tempat favorit warga khususnya anak-anak muda Bandung belakangan ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa isu narkoba beberapa tahun ke belakang ini sudah mulai terlupakan dan seakan menguap oleh isu-isu politik, ekonomi dan isu lainnya. Maka dari itu kami merasa perlu untuk mengingatkan kembali hal penting yang mulai terlupakan ini, salah satunya lewat gelaran perdana kami yang bertajuk "We Are Here!". Gerakan ini tidak akan terhenti disini karena program ini merupakan salah satu langkah awal yang akan menjadi gerbang menuju program-program lainnya yang dirancang berkelanjutan.



Tentang Drug Free Youth Indonesia
Drug Free Youth Indonesia (@drugfreeINA) adalah komunitas nirlaba yang bertujuan untuk membentuk public awareness mengenai bahaya narkoba. Mereka berpandangan bahwa salah satu penyambung rantai peredaran narkoba di Indonesia adalah kurangnya informasi masyarakat mengenai bahaya Narkoba. Dengan mengambil strategi awal new wave campaign, Drug Free Youth Indonesia menyasar target pengguna social media. Terdapat beberapa program taktis mereka yang akan dijalankan tahun ini. Salah satu program taktis mereka adalah rally talk show anti narkoba ke beberapa sekolah dengan bekerja sama dengan beberapa pihak. Program tersebut bersifat inklusif terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung.
Prinsip mereka sederhana; mempromosikan hidup sehat tanpa narkoba dan melihat masalah narkoba secara objektif tanpa harus mengdiskreditkan pengguna dan mantan pengguna narkoba.

Friday, January 28, 2011

Sunday Afternoon With Mocca

at JB’s Fun Pub Hotel Hyatt, Bandung. 26 Desember 2010
Photo by. Dikibo




Biasanya apa yang kalian lakukan di suatu minggu sore hari? Mungkin hanya sekedar jalan-jalan mengelilingi kota bersama sang kekasih pujaan atau mungkin hanya sekedar duduk santai di taman kota? Namun di suatu hari minggu yang tampak mendung hari itu tampak ada yang berbeda, Mocca membuat sebuah gelaran mini konser yang bertajuk “Sunday Afternoon With Mocca”. Yup! di awal tahun 2011 ini, Mocca bersama management memberikan sebuah kejutan manis untuk para Swinging Friends. Mini konser ini merupakan acara “warming up” sebelum Mocca menggelar acara bergengsinya yang bertajuk “Secret Show 4” yang akan diadakan pada tahun ini,  dan selama menuju proses gelaran “Secret Show 4” Mocca membuka keanggotaan Swinging Friends yang ke-4 baik di Indonesia bahkan tidak menutup kemungkinan juga di luar negeri. Agar suasana mini konser ini lebih intim, panitia hanya menyediakan 200 tiket regular dan 50 tiket VIP dan 250 tiket tersebut sold out dalam hitugan jam pada hari pertama penjualan.



Acara yang dumulai sekitar pukul 15.00 WIB ini dibuka dengan penampilan dari Temansebangku, duet acoustic yang terdiri dari Doly (gitar) dan Sarita (vocal) ini membentuk Temansebangku pada pertengahan 2010. Petikan dari gitar nylon kopong dan alunan vocal yang sederhana dibalut lirik yang diambil dalam pengalaman pribadi personil membuat penampilan mereka sangat minimalis. Sekitar 3 lagu mereka bawakan, diantaranya Nyanyian kecil, Menari, dan terakhir Sing About You. For your information: Temansebangku ini sedang mempersiapkan debut E.P mereka sekarang dalam proses mixing dan  akan diprodusesi oleh Riko (Mocca).



Usai penampilan mereka kini giliran Mocca yang menghibur para Swinging Friends yang sudah memadati venue dengan duduk manis. Penampilan Mocca dibagi 2 sesi, sesi pertama mereka membawakan sekitar 8 lagu dan sesi terakhir berikutnya mereka membawakan sekitar 7 buah lagu yang diambil dalam album Mya Diary, Friends, Colours, dan terakhir dari Mini Album terbaru Mocca. Sesi pertama Mocca langsung membawakan 8 buah lagu yang diantaranya Sunday Afternoon, Buddy Zeus, Dream, I Remember, Hyperballad (cover version Bjork), Butterflies, Lucky Me, dan terakhir Happy. Tampak Swinging Friends tidak henti-hentinya ikut sing along selama sesi pertama ini berlangsung. Usai membawakan lagu Happy, Mocca turun panggung untuk jeda sesi pertama.
Ketika jeda sesi pertama, penonton dihibur dengan penampilan dari band-band side project personil Mocca, Seperti Toma Pratama (bassist Mocca) dengan side project Tomatosgrill dan Riko (guitarist Mocca) dengan side project Triangle. Tomatosgrill side project dari Toma didaulat untuk perform pertama, Tomatosgrill membawakan 3 buah lagu yang chill out dibalut dengan sentuhan electro yang nge-popish, enaknya dengerin musik Tomatosgrill pas barbeque-an di pinggir kolam renang pasti lebih ciamik!!
Selanjutnya giliran Triangle perform, side project dari Riko. Project ini berawal dari acara opem mic yang sering diadakan di Beat N Bite cafe milik Riko yang menemukan sosok Cil yang layak dijadikan sebagai vokalis di Triangle. Untuk melengkapi format band ini maka Riko mengajak Fikri dar Vincent Vega untuk mengisi department guitar. Band ini dibantu oleh beberapa additional sperti Koi (drum) dari Ansaphone dan the Panic, Tommy Pangemanan (trumpet), dan terakhir Agung (keyboard). Sekitar 3 buah lagu mereka bawakan, dan penampilan musik mereka akan mengingatkan kita pada band The International.



Usai kedua band side project dari personil Mocca ini, acara kemudian dilanjutkan pada sesi terakhir penampilan Mocca. Di sesi terakhir ini, Mocca membawakan 7 buah lagu 3 diantaranya request-an dari Swinging Friends. Mocca membawakan lagu-lagu seperti On The Nighy Like This, When The Moonlight Shines, Object, Sing, Bundle of Joy, life Keeps on Turning, dan satu buah lagu bonus sekaligus lagu penutup. Penampilan Mocca diakhiri dengan membawakan lagu Swinging Bob, para Swinging Friends yang asalnya duduk manis sontak berdiri mengikuti ajakan Arina (vocal) dan ikut sing along dan tampak beberapa Swinging Friends ada yang menari.
Mocca menutup “Sunday Afternoon With Mocca” dengan memberikan kecerian kepada para Swinging Friends yang hadir. Sampai berjumpa dalam gelaran “Secret Show 4”

About Me

My photo
Social Scenedicate, is a media who want to contribute to the movement of the independent scene "so called Undergorund" in the homeland, and the city of Bandung in particular. There is no special pattern within the body Social Scendicate, but we try very hard to provide as complete information to a wide audience for our information can be spread evenly.